Showing posts with label guluk-guluk. Show all posts
Showing posts with label guluk-guluk. Show all posts

Thursday, May 10, 2007

AQABAH

--minhajul abidin

dari simpang ujung, kau datang
menempuh perjalanan waktu. seribu matahari
berbilah perigi sungai. kitapun tak sampai
sementara dari mata getir ngalir kehilir
tinggalkan semesta bayang
kenangan haru kota itu

kau pandang.sudah berkali kali mereka berangkat
jalan sangai, bersebadan teluk
sebatang tanah pisau
serupa kayu lapuk
menepis garis rahasia
dari seutas halaman kitab suci
dalam mimpi; menuju pendakian usia

menara puncak. telah pasang
melampaui segala bayang bayang baqa’
membuka jazab yang hilang jalan
impian takkan kita temu
saat bunga bunga durjana mulai gugur tangga
sepanjang sejarah
tempat kelak kau bayangkan
menuju alam pengasingan
mereka. mungkin juga kita,
tak mampu menggapai puncak
menempuh pengelanaan kadirat
di daki ketujuh usah isyarat diperam
sejauh impian berlari pada hamparan jabarut
sejak pengembaraan itu telah dimulai
pada matamu seribu keris membara
di jiwaku merpati merpati beterbangan
menjelma putaran pasir
usapkan arus gelombang
seperti pencapaian. dua langkah saling beradu
berbagi cerita akhir

lalu perjalanan kitapun tak sampai
menebing ribuan madungan
hingga aqabah hampir mewarisi segalanya
impian kami. puncak kebahagian kami
dan sebatang tombak buru telah raib baja
bagi jejak takdir; ujung dari perjalanan
sepanjang menempuh usia

TEMBANG-TEMBANGAN

--kawan-kawan dari timur

malam turun, ribuan kelelawar hijrah
meninggalkan riwayat bayang-bayang

tumpukan jerami busuk, bersemayam daun-daun
empat batang lilin, musim membanjir di halaman
menjelang pedalaman waktu

angin diam
ruang gerak
menyisakan celah dingin di rongga reranting
masih kita bayangkan
seanyam kembang berayun langkah di lepas jalan

RUMAH PERDAMAIAN


setiap kali kaki berjejak memasuki gerbang tua
pada tungku lagu tanah air dibatas samadi lukisan rumah pinggir jalan
dalam retak lama dan buku buku sejarah prasasti anak bangsa
tentang arah setapak yang dulu pernah menuntun impian negeri pulang
diantara tiang tiang pintu dan gelora hasrat yang terpental memupus mimpi
seperti jalan jalan panjang yang diam mengarak
menembus hari abadi di ruang ruang

sedang disini telah lama kita menunggu
suara kedamaian pada tahun tahun tersangai
diruap pengungsi dan meriam meriam penjajahan
mengurai kembali hening gema. ketika periman agama
yang tertakluk memutar aroma kembang
masih ada bekas bekas busuk keringat kaum duafa
di peremangan asin kota; telah memeluk liar jiwa
menahan matahari ketika senja
dan sebelum taji sejarah saling berdekap di badan badan

--di negeri ini sekadar hari depan
rumah rumah telah kita bangun bersama
sebab mereka akan kembali
membawa zaman yang lebih berarti
dengan pergerakan yang dibarak barak
mengobar langit angkasa nurani
seperti hari telanjang tegak di matamu

hingga telah kita dulang segala mimpi yang punah
dideret ruang tempat kau membela diri dari paksa
sambil menjaga sejarah sejarah itu
pada ruang rancak dari semesta luka
martabat yang dipegang imarah kekuasaan
seluruh jantung telah menerima
laras senapan dan biji biji peluru keadilan
yang tersengal gumpal darah kaum hawa
dan deru pilu jendela jendela pintu yang terasing di rahimnya

bertahun tahun kita besuk peradaban manusia
melalui pori tulang punggung wajah wajah dikanan kiri
dan kearifan impian yang terdinding hampa
menjadi tempat memuja dan meneror gerbang gerbang jiwa
sementaran kini telah kau pisahkan dari jejak itu
orang orang yang datang menuju garis perigi
dengan nyala musim dibawah penghulu tumpul
batu batu yang tercipta tengadah ke langit
dalam surjan taklim remang pengasingan

--di negeri ini hujan api yang langgeng
telah kau hujahkan sepanjang hayat
sampai dalam hakikat jiwa

para kaum kaum damai yang saling tertembak
dengan kalong silang warna kemerdekaan
para perempuan perempuan yang digiring menghadap
dengan rajah buru kayu bakar dilekat dada
mengenalnya tarekat

kejalur lurus abdi kehidupan

pergilah ke rumah itu. rumah rumah penduduk jiwa
tunduk dan tunduk. disini tempat asal muasal dzat agung
yang tersembunyi kedalam jimat harga diri
ketika kedatanganmu bumi pertama
kedamaian yang terajarkan di tangan tangan
dari beban nurani saling berpagut sembah menyembah
melupa derita panjang pada bumi dan jagad

seperti aku berjalan. hanya gerak dan hari depan
tempat memandang luas berulang
maka pintu rumah itu segera terbuka
lalu kaupun berjalan dalam bayangan rendah
dari sudut gerbang. tangga waktu dari langit
dari belenggu tanah dan revolusi zaman
ditandu tandu dalam dekap erat seorang pengadil masa lalu
yang bertahun meminangmu
dengan tubuh telanjang
menjadi patner sejarah
dan zionis kemanusiaan

dari mana mereka datang, penuh bunga dikenang rindu
jalan jalan yang memanggung hari hari tersanjung
dan suara hidup seperti lagu semu pembebasan yang jauh
telah terurai jejakmu dengan patung patung jamaat bangsa
melalui sejarah peradilan dari masa ke masa

--di negeri ini. rumah rumah itu meratakannya
dari buru damai. dari koridor koridor panjang kegaduhan
dengan semangat imbang generasi
berjuta juta isme sukacita para penguasa
para makelar rakyat dengan jiwa rekah di matanya
dan perempuan perempuan pergerakan

maka tibalah aku pada sebuah frakmen akhir
sebujur karat cerita tak bernama
membawaku pergi ke taring taring yang saling berdayung
berdebar di pangkal abad pembantaian
dari teluk akidah kaum barsala, tabiat sumaral shahabiyah
dalam perang panjang dan cambukan zaman

telah kutakluk segala kitab suci
dan firman firman yang menghujahku
--di negeri ini. rumah rumah itu setengah tengadah
terbungkuk sebentang wajahmu, menerima surut waktu
yang tergusur ketika benih benih di dada birahi
terusir dari tidur panjangmu di rawa rawa suci
tanpa butir kelamin
tanpa ubun usia
menghidupinya

sementara kau masih mengembara separuh hayat yang berbeda
segala telah bermula pada sebuah tandu tungku
tempat sejarah sejarah yang rebah bangkit jauh
mengejar cebur hasrat lagu himne yang dilepas pikul
bersama dayung cerita dari segairah perjalanan
mengusungku ke langit tujuh lapis
lalu mereka menempuhmu disana
diantara lorong lorong beku
menyimpan lingkaran gaung raksasa
dengan harum tanah yang merindu
seribu tahun kemudian

kita berjalan kembali; melepas beban negeri
di dunia yang tak terbayangkan
penuh revolusi, bau busuk organiser
terjaga dengan ribuan kalut hidup
telah kupandang ujudku warna yang menyatu
menjadi satu jalan sepanjang barisan

sedang disini telah lama kau menunggu. yang memudar
antara amanat dan surag pandang dari seluruh tangan tanggung jawab
tentang perlawanan janji dan kemerdekaan generasi bangsa
dari situs lama dan bekas tahta tahta pasang surut umat
bahwa rumah keadilan adalah tebusan harta kuasa
untuk mereka membuka wajah nurani dari peledakan demi peledakan
yang menggaris lembah jiwa mereka diantara medan kebebasan

--di negeri ini. beberapa hari kita bersatu
menjalani rumah rumah waktu. untuk saling berikrar
warna palang panorama muda, dengan laskar para pejuang
sebab tak ada lagi yang musti sepadan lawan
dari pergerakan. perdamaian ini dibarak barak menuju langit
setelah persayatan salam, bumi kembali merdeka
atas nama umat kemanusian

hingga kini masih seperti kulalui hari hari usang
diantara jeruji gerbang memasuki rumah tua itu
untuk menggenggam semangat yakin keadilan
melalui raga berdarah tubuh tubuh yang tertinggal senanam mawar
gemuruh jiwa jiwa dan sumpah nama nama yang saling bertukar
memenuhi alun kota, dari jalanan hingga puing kekalahan
dan bendera bendera yang marak terkibarkan di tangan tangan
hanya terpandang lanskap puncak dan mimpi mimpi semu
roh roh berjuta zaman yang membatu didaki kaki kaki
pada ribuan mil jarak peradaban terbentang dipendar rusuk
wajah wajah yang lalu lalang membuka ruang seperti lipatan kelam
saling berdangak kedepan memangku rumah rumah baru
menuju jalan jalan panjang yang saling beradu begitu lama
berikrar untuk saling percaya mempercayai kata
dari waktu ke waktu melawan bayang bayang
dan impian kemerdekaan perdamaian

POLES*

kakek berusia ribuan tahun itu kembali merana
dari bukit ambar ke bukit savana. tempat dimana
api dulu pernah dijadikan ruang pemujaan bintang bintang

tepat ditengah kubangan darah, bagai percik air hujan
menenggelamkan butiran karang dalam samudera
saat lumut lumut menguapkan harum tanah
memantulkan bongkahan pasir kedasar bumi

hingga suatu kelak kuceritakan padamu
sekerat kisah pengembaraan panjang dari kamus usia yang terbuang
mengayuh dari gayam wasiat orang orang terdahulu
dalam pukat mataya. saat gelegak raung disahut kembali
mengasah guntur dan hujan, cuaca purna dalam abjad aksara aksara

maka kini aku datang. dilapis bumi pertama
saat langit hampir maghrib, daun daun terhempas gugur
menjemput senja usia diahar semesta

hingga kau biarkan segenggam sejarah berterbang
dari sisa lukisan peta tangis dalam sebingkai ijazab
kemurungan panjang bagi bumi dan langit
bagai anyir sembilu menggerus dahaga berlubang dan membeku

aku tahu. disini dahulu saat bocah bocah mengapas telinganya
jantung berdedah , mengguncangkan kisah kisah tak pernah usai kau baca
dan kau dari sebatang tombak, saat itu bertekuk lamun dalam ingatan kelam
melepas diri kelengang pantai
darah! darah! darah!

hingga perlahan ranting pohon pohon dihalamanmu
mengeras, menjelma fosil tulang asap debu dalam pangkuan
yang berbiak bersama desakan angin dari puncak segara penjuru

kupandang datar dari jarak jauh
laksa rambutmu mengiris tajam mimpi masa lalu
bagai bentang didih ke angkasa
hingga peperangan
antara darah dan kekuasaan
yang kau bungkam dalam dalam
dada yang membara
jiwa yang merana
telah berakhir pada kepalsuan hidup

maka disini kemudian jejakmu terurai cemas
pada lembar lembar kesunyian
batu batu dan belukar gunung
--kepulangan diri dari kediaman sejati
selembar perasaan dan naluri

hingga akhirnya saat itu
senapan tua di tanganmu kembali gemetar
mencengkeram semesta, membuncah dalam nalar
cecahnya suar daun yang gugur
sebelum sampai
sebelum sampai
hangus! hangus! hangus!

;dalam impian menjadi kenyataan

MENJELANG SORE

kembali daun daun bergugur
di pangkuan
menyerpih ke kampung rumah
dan kolam taman
ranting kecil, yang diam menjalar
menggali arus sungai
sepanjang pesisir

tempat petani pulang
menjelang mimpi usai
di gubuk gubuk
dimana kelelawar kelelawar
menghijrah pekarangan kembang
antara musim kemarau
dan ceruk teluk

lepas angan
riwayatmu berakhir
ada masa suatu waktu
yang takkan berubah uban
lengkap pepagar
menebar bunga kamboja
tentang sampiran syair
yang gagar berulang

kalau kau pergi
agar hari tak terperi
menundakan jejak ziarah
kau simpan rubuiyat senja
dan percakapan suci
seperti dulu

dan senyummu
tetap rekah pucuk pucuk mawar
disepanjang jalan pulang
menjelang sore usai